Halo! Gua adalah seorang fans Arsenal yang kebetulan suka baca buku, main game, olahraga, menabung, dan mengaji.

Maudy Ayunda dan Keresahan Anak Muda

 

Sempat viralnya Maudy Ayunda diterima di dua universitas ternama dunia, Harvard University dan Stanford University, membuat gua mencoba mencari tau apakah ada pengaruhnya bagi anak muda yang mengetahui hal ini.

Tapi, sebelum itu, kita cari tau, serpak terjang dari Maudy Ayunda ini dulu.

Profile Maudy Ayunda

Nama lengkap Ayunda Faza Maudy. Lahir di Jakarta, 19 Desember 1994. Mempunyai seorang adik bernama Amanda Khairunnisa. Dan kedua orang tua bernama Muren Murdjoko Jasmedi (ibu) dan Didit Jasmedi R. Irawan (ayah).

Untuk lebih lengkapnya, langsung dari orangnya aja, ya? http://www.maudyayunda.com/about/profile/

Riwayat Pendidikan

  • TK AL-Iman
  • SD Al-Azhar (kelas 1 – 2)
  • SMP Mentari International Jakarta
  • SMA British International School Jakarta
  • Oxford University Inggris mengambil jurusan P.P.E (Politics, Philosophy, and Economics)

Untuk S1, sebenarnya Maudy Ayunda sudah diterima di 8 universitas ternama lainya. Columbia University dan Brown University salah duanya. Dan akhirnya Maudy memilih Oxford University (Inggris) mengambil tiga jurusan sekaligus (Philosphy, Politics, dan Economics). Hebatnya lagi, Maudy mampu menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 3 tahun saja. Konon katanya, Maudy menjadi satu-satunya warga negara Indonesia yang mengambil jurusan P.P.E di Oxford University

Tepuk tangan dulu.

Dan sekarang, seperti yang kita tau, dia akan melanjutkan studinya di Stanford University.

Karier

Untuk karier gak perlu ditanya lagi. Main film? Oke. Nyanyi? Merdu pastinya. Karya? Udah ada dua buku terbitan Bentang Pustaka. Jadi Brand Ambassador? Dari obat masuk angin sampai produk kecantikan sudah teken kontrak sama Maudy.

So, gak perlu diragukan lagi, lah ya?

Jadi pengen nonton Perahu Kertas lagi.

Dear Tomorrow Kina

Pendidikan dari Orang Tua

Salah satu faktor kesuksesan adalah Pendidikan dari Orang Tua. Walaupun banyak juga, yang tanpa perhatian orang tua, bahkan tanpa orang tua tetep bisa sukses.

Tapi, mari kita liat, seperti yang dikutip theasianparent.com, bagaimana Pendidikan orang tua Maudy Ayunda ini.

“Dulu kalau aku terlalu rajin sekolah, orangtua malah ngomel. Maksudnya ya harus rajin biasa aja, jangan sampai lupa hal lain,” tutur Maudy.

Memang, Maudy mengaku bahwa kedua orangtuanya senantiasa menerapkan konsep keseimbangan sejak ia kecil dalam hubungan sosial, pendidikan, dan berbagai hal penting lainnya. Orang tua Maudy Ayunda selalu menekankan pendekatan pengasuhan holistik.

“Misalnya ada tamu datang ke rumah dan aku masih di atas karena lagi baca buku, orangtuaku selalu manggil untuk ketemu tamu. Se-kutu-buku itu tapi mereka tetap mau aku seimbang,” ujarnya.

sumber: https://id.theasianparent.com/orang-tua-maudy-ayunda

Lalu, sejak kecil juga Maudy Ayunda sudah ditanam hobby membaca. Fun fact, saat kecil, di rumahnya tidak ada televsi. Entah sengaja atau tidak, itu membuat Maudy Ayunda kecil melakukan aktivitas lain seperti jalan-jalan sore, membaca, atau menulis.

So, tidak banyak tuntutan dari orang tua, tidak membuat Maudy Ayunda tidak bertekad untuk menorah prestasi yang banyak. Dan kalau masih penasaran sama kisah Maudy Ayunda saat kecil, bisa beli bukunya di Toko Buku dengan judul Kinas Story, Kina and Her Fluffy Bunny.

Sebagai Warganet

Sekarang gua mau melihat dari sudut pandang sebagai warganet. Banyak dari kita yang mengapresiasi atas keterimanya Maudy di dua universitas ternama dunia itu. Tapi, gak jarang juga yang nyirnyirin atas prestasinya tersebut.

Memang setiap ada yang Positif pasti ada yang Negatif.

Dan sebagai warganet, gak afdol kalau yang viral gak dibikin meme atau parody-nya. Penasaran? Silahkan ke sini https://www.brilio.net/ngakak/12-cuitan-lucu-beda-dilema-maudi-ayunda-vs-orang-biasa-ini-kocak-190304c.html biar gak kepanjangan postinganya hahaha.

Semua ada Waktunya

Kalau kalian baca-baca artikel tentang kapan waktunya untuk sukses, pasti kalian akan menemukan kalimat serupa seperti ini:

New York 3 jam lebih awal dari California, Tapi tidak berarti California lambat, atau New York cepat. Keduanya bekerja sesuai “Zona Waktu”nya masing-masing.

Yup, itu berlaku juga untuk kita: Manusia. Semua ada waktunya.

Atau pernah membaca kalimat seperti ini:

Obama pensiun dari presiden di usianya yg ke 55, dan Trump maju di usianya ke 70.

Atau ini:

Ada yang lulus kuliah pada usia 22, namun ia menunggu 5 tahun untuk mendapat pekerjaan yang bagus; Dan ada orang lain yang lulus pada usia 27 namun langsung mendapat pekerjaan! 

Dan ini:

Seseorang menjadi CEO di usia 25 dan meninggal dunia pada usia 50 tahun sementara yang lainnya menjadi CEO di usia 50 dan hidup sampai 90 tahun.

Sayangnya ada sebagian orang menjadikan kalimat-kalimat di atas sebagai pembelaan atas kemalasan mereka. Terkadang, waktu bukan penentu kesuksesan itu sendiri. Berhenti berkata ‘belum waktunya’ tapi masih leha-leha dengan kegiatan yang tak menguntungkan untuk anda.

Kalau terus menunggu ‘waktunya’ tanpa ada usaha yang memadai, ‘waktunya’ tidak akan sampai juga pada anda.

Kalau anda pernah ngobrol dengan seseorang, lalu tiba pada topik skripsi dan mencari kerja, dan yang dia katakan malah, “Ya, slow aja. Setiap orang punya waktunya, kan?” sembari terus bermalas-malasan tanpa ada usaha yang cukup untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.

Ya, ‘belum waktunya’ dijadikan justifikasi atas kemalasanya.

Siapa yang Lebih Cepat?

Melihat Maudy Ayunda yang seakan jauh lebih hebat, lebih sukses, dan lebih cepat dalam bidangnya, apakah membuat orang yang seumuran atau lebih tua menjadi minder? Depresi? Merasa tidak berguna dalam hidupnya?

Bagi yang merasa demikian, boleh lihat gambar di bawah ini:

https://twitter.com/vincentrcrd https://twitter.com/pergijauh https://twitter.com/BisnisAnakMuda

 

Memang ada yang lebih cepat dan sedikit pelan, tapi itu menandakan kamu buruk. Semua orang punya urusanya masing-masing. Semua orang punya goals-nya masing-masing. Semua orang boleh menentukan apakah mau lanjut atau berhenti sejenak agar yang lebih membutuhkan bisa melesat lebih jauh.

Ibarat berlari Marathon, tidak harus berdiri di podium untuk disebut sebagai pemenang, bahkan memutuskan untuk berlari Marathon saja, sudah layak disebut sebagai pemenang. Mengalahkan diri sendiri, rasa takut, atau khawatiranya. Sebab tidak semua orang berani untuk berlari full Marathon.

Tidak semua orang berani mengambil keputusan yang sama denganmu. Berhenti merendahkan dirimu sendiri.

Kembali lagi ke ‘waktunya.’

Memang, terlalu menbandingkan diri dengan orang lain bisa membuat diri jadi minder, kurang bekerja, atau malah menggampangkan sesuatu. Tapi, bukan berarti ‘waktu’ dijadikan alasan untuk tidak melakukan apa-apa karena ‘semua orang punya waktunya.’

Banyak factor yang membuat kita sukses dan semuanya harus diperjuangkan jika ingin memperolehnya. Tidak cuman menunggu dalam diam tanpa usaha. Tidak hanya sekedar menunggu waktunya.

Jadikan Acuan

Kalau kebetulan Maudy Ayunda adalah orang yang setipe dengan anda, like pekerjaan, hobby, atau bidang pendidikanya, Nah itu bisa menjadikan Maudy sebagai acuanmu. Coba lihat kebiasaan dia, cari tau bagaimana dia bisa seperti saat ini.

psst. Ada wejangan Maudy Ayunda dalam meraih mimpi di sini.

Kalau dia bukan orang yang cocok untuk dijadikan acuan atau teladan, bisa lihat temanmu yang sudah ‘berhasil’ duluan di bidang yang kamu tekuni.

Jika tidak ada temanmu seperti itu, bisa cari tau orang-orang dulu yang lebih sukses, baca bukunya atau baca biografinya. Pasti di sana ditulis kebiasan dia, apa yang dia lakukan, untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Kalau novelis, bisa baca biografi Dan Brown. Bagaimana dia selalu bangun jam 3 pagi untuk mengerjakan naskahnya.

Kamu yang Mulai

Pada akhirnya, yang memulai kisahmu sendiri adalah dirimu sendiri. Yang tau kamu mau jadi apa adalah kamu sendiri. Yang bisa membuatmu sukses pun dirimu sendiri. Walaupun terkadang hasil akhir bukan ditanganmu. Yang penting kamu tetap berusaha.

Entah akan ada berapa orang yang akan termotivasi akan usahamu itu.

Setiap orang memang punya waktunya sendiri, tapi hidup juga punya timer-nya sendiri. – Teguh Andi.

Sebelum gua tutup, silahkan nonton video di bawah ini, yang merangkum seluruh artikel yang gua buat (terus, ngapain gua buat, ya?) Jangan lupa, tinggalkan komentar, ya 😉

Keep Sarungan!

Leave a Comment