Cerita Lucu Abu Nawas Paling Lucu! Wajib Baca!
Sumber: Brilio

Cerita Lucu Abu Nawas Paling Lucu! Wajib Baca!

Siapa yang tidak tau Abu Nawas, sang cerita 1001 malam yang tidak pernah ada habisnya. Dan terkenal dengan syairnya. Dan inilah cerita lucu dari Abu Nawas yang harus kalian baca!

Istana yang Mustahil

Istana di atas Langit
Sumber: Kelasdesain

“Abu Nawasnya lagi main sama pendeta dan ahli yoga dari kampung sebelah,” Kata istri Abu Nawas perihal perginya Abu Nawas, “katanya mengembara mencari kitab suci. Udah gila si Nawas. Kebanyakan nonton kera sakti.”

Raja, yang menanyakan keberadaan Abu Nawas, pergi tak peduli celotehan istri Abu Nawas.

Raja membutuhkan Abu Nawas segera. Dia ingin menjadi Raja yang memiliki istana di atas awan-awan, menjadi Raja paling hebat dibanding Raja-raja lainya.

Raja mengumpulkan intel-intel terbaiknya, menjadikan pasukan khusus pencarian Abu Nawas. Namun siapa sangka, tim khusus gagal atas misinya, tidak bisa menemukan Abu Nawas. Karena saat pembentukan tim, Abu Nawas sudah kembali pulang.

Raja seneng dong. Langsung disamperin si Abu Nawas ini.

“Woi Abu Nawas,” Raja macam apa yang manggil pakai woi? “dicariin juga. Sini, main kita.”

“Baik, Baginda.” Abu Nawas menuruti perintah sang Raja yang sedang tertawa gembira.

Mereka saling bercanda di kediaman Raja. Melemparkan beberapa guyonan, beberapa lucu dan kebanyakan garingnya. Persis basa-basi orang mau ngutang.

“Hmmm, ada maunya nih si Raja.” Duga Abu Nawas.

“Jadi gini,” Raja mulai to the point.

Bener, kan kata gua. Sampai mau ngutang, gak bakal gua kasih. Raja apaan ngutang sama gua, kata Abu Nawas dalam hati.

“Kalau seumpama gua bikin istana yang melayang di langit, biar Raja-raja yang lain iri sama gua dan gua menjadi Raja yang tekenal, begimana?”

“Oh,” Abu Nawas bernapas lega sedikit, “tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Baginda.” Kata Abu Nawas pelan.

Abu Nawas mulai gugup. Sesuatu yang tidak enak mungkin sebentar lagi akan menimpanya.

“Kalau menurutmu mungkin dilakukan, gua serahin tugas ini pada lo, Abu Nawas.” Raja tersenyum, menepuk pundak Abu Nawas kemudian pergi meninggalkan Abu Nawas yang masih shock.

Tentu saja perintah Raja tersebut membuat terperanjat Abu Nawas. Bagaiamana bisa seorang Raja memberi perintah yang gila itu kepadanya?

Abu Nawas tidak bisa lari. Perintah Raja tidak bisa ditarik kembali. Raja juga memberi waktu beberapa minggu untuk menyelesaikanya.

Tidak ada yang lebih berat dari mengemban perintah yang gila itu. Apa katanya, membuat istana di atas awan? Membuat gubuk kecil saja sudah hal mustahil baginya, apalagi istana yang mengambang? Hanya Tuhan yang mampu melakukan itu. Gerutu Abu Nawas.

Hari berganti hari, tidak ada yang dilakukan Abu Nawas selain berpikir bagaimana cara agar Raja bisa percaya kalau yang dia bangun adalah istana yang melayang-layang di langit. Abu Nawas menggali pikiran demi pikiran. Sampai tiba teringat di masa kanak-kanaknya, Abu Nawas pernah bermain laying-layang.

Mungkin kondisi Abu Nawas sekarang seperti Archimedes yang mengatakan eureka, tapi dalam kondisi memakai baju lengkap.

Abu Nawas mengumpulkan teman-temanya dan membuat layang-layang persegi berukuran raksasa dengan cepat. Setelah rampung, Abu Nawas melukis pintu-pintu, jendela, dan hiasan-hiasan lainya.

Abu Nawas memilih tempat yang rahasia untuk menerbangkanya. Dan semua penduduk terkaget-kaget, terheran-heran, tidak makan sayur kol dengan daging binatang berkaki empat yang menggonggong, karena melihat Istana yang mengapung di langit.

Raja girang bukan main. Macam kena setan siang bolong. Tapi, hatinya bertanya-tanya, apa benar Abu Nawas berhasil membangun istana di langit? Tak butuh waktu lama bagi Raja datang ke hadapan Abu Nawas didampingi para pengawal.

“Woi Abu Nawas,” gua juga heran kenapa Raja masih manggil woi, “Ba… ba…” Raja mencoba mengatur napas.

“Tenang, Baginda.” Abu Nawas tersenyum bijak. “Istana Baginda Raja yang dipesan, sudah rampung.” Kata Abu Nawas menatap langit-langit sambil tangan ditaruh dibelakangnya. Seperti orang bijak yang jahat.

“Memang hebat lo, Naw. Mantul.” Raja memuji Abu Nawas. “Gimana gua bisa ke sana?”

“Pake tambang, Baginda.” Abu Nawas masih menatap ke atas.

“Mana tambangnya? Gua udah gak sabar.” Raja mencari sekeliling, berharap menemukan barang yang dia sebut.

Kali ini Abu Nawas memalingkan wajahnya dari langit-langit dan menatap mata Raja.

“Maafkan hamba, Baginda Raja. Kemarin, hamba lupa memasang tambang itu. Sehingga teman sekaligus tukang hamba terjebak di atas situ dan gak tau bisa turun apa enggak.” Kata Abu Nawas, dalam.

“Lah, terus bagaiamana caranya elo turun?” Tanya Raja, alisnya bertemu.

“Dengan menggunakan sayap.” Abu Nawas kembali memandang langit-langit.

“Yaudah, buatin gua sayap. Gua udah gak sabar mau memasuki istanaku.” Raja mulai gak sabaran.

“Baginda Raja,” Abu Nawas menatap mata mata Raja kembali, “sayapnya hanya bisa dibuat dengan mimpi.”

Raja mulai merasa ada yang tidak beres di sini. “Jadi, elo bilang kalau gua udah gila seperti diri lo?

“Ya, kurang lebih begitu.” Jawab Abu Nawas mantap.

“Ap… apa maksud lo?” Raja marah sekaligus bingung. Baru pertama kali dia dibilang gila, sama Abu Nawas pula.

“Baginda tahu bahwa membangun istana di atas sana adalah hal mustahil dilaksanakan. Tapi, Baginda bersikeras untuk hamba membangunya. Dan hamba tentu tau bahwa itu musatahil untuk dilaksanakan. Tetapi hamba tetap menyanggupi perintah Baginda yang tidak masuk akal itu.” Abu Nawas meyakinkan Raja.

Raja menunduk lemah, lalu menatapkan wajahnya ke langit-langit, melihat ‘istana’ yang mengapung di atas sana.

“Sebenarnya siapa diantara kita yang gila?” Raja sudah kesal.

“Hamba kira, kita berdua sama-sama tidak waras.” Abu Nawas menjawab yakin.

Baca Juga: Puisi Kahlil Gibran dan Kehidupanya

Kabayan, Abu Nawas, dan Matematika

Animasi Matematika

Di suatu tempat, Kabayan bertemu dengan Abu Nawas untuk membahas masalah matematika.

Kabayan: “Abah Abu, saya bukan benar-benar ahli matematika, hanya saja saya diundang untuk menjadi ahli matematika di sini, menurut Abah Abu, apa yang harus saya lakukan?”

Abu Nawas: “Kang Kabayan, materi apa yang akan disampaikan di seminari kali ini?”

Kabayan: “Sebenarnya, itu sederhana, panitia meminta saya untuk menyampaikan tentang persamaan, mereka hanya meminta agar persamaan itu tidak dibahas secara matematis, tetapi itu sederhana (jika kesenangan itu mungkin) dan mudah bagi orang awam untuk mengerti. Bergabunglah dengan seminar ini, jika Anda diminta untuk mendiskusikan secara matematis, wow, saya tidak dapat membayar untuk itu … ”

Abu Nawas: “Begitukah … Coba ini, saya bertanya, tentang bagaimana Kang Kabayan memecahkan persamaan (8-x) / 3 + 2 = 4, bagaimana ini?”

Kabayan: “Secara matematis benar, saya tidak bisa menjelaskannya, mungkin matematikawan akan mengolok-olok saya, saya dengan kata-kata … dengan cara saya sendiri, seperti yang diminta oleh komite.”

Abu Nawas: “Bagaimana dengan itu?” Saya juga tidak mengerti jika saya diminta menjelaskan secara matematis, saya juga menerima pertanyaan dari teman saya yang bertanya dan saya tidak bisa menjelaskannya secara matematis, coba, bagaimana menurut Anda bagaimana menyelesaikan persamaan?

Kabayan: “Ah, Abah Abu sederhana …”

Abu Nawas: “Sungguh, aku benar-benar tidak bisa.” (Kali ini tampaknya wajah Abu Nawas terlihat serius)

Kabayan: “Baiklah kalau begitu, menurut saya, persamaan itu saya dibandingkan dengan skala dengan” dua tangan. “Tanda sama dengan rata-rata seimbang.” Abu Nawas mendengarkan Kabayan dengan serius.

Kabayan: “Itu berarti bahwa, untuk menyelesaikan persamaan ((8-x) / 3 + 2 = 4), ini mudah, saya membandingkan 4 hingga empat semangka dengan ukuran yang sama yang terletak di sisi kanan skala, dan ke kiri , (8 -x) / 3 + 2 yang berarti jumlah semangka yang saya sendiri tidak tahu berapa banyak ditambah dua semangka “. (Apa Kabayan maksudkan dengan jumlah semangka yang dia tidak tahu berapa banyak (8-x) / 3).

Abu Nawas: “Ya … ya … kalau begitu?”

Kabayan: “Ya, karena di sebelah kiri jelas ada 2 semangka dan sisi kanan memiliki 4 semangka, yang berarti bagian yang saya tidak tahu ((8-x) / 3) sebenarnya sama dengan 2 semangka. (8 -x) / 3 = 2. “Kabayan tampaknya diam untuk sementara waktu, memperhatikan persamaan baru ((8-x) / 3 = 2) yang telah diperolehnya. Kemudian, segera setelah itu, ia melanjutkan penjelasannya …

Kabayan: “(8-x) / 3 = 2, yang berarti jumlah semangka (8-x) jika dibagi 3 sama dengan 2. Artinya jumlah semangka sudah pasti 6. Jadi itu berarti 8- x = 6. ” Dia belum sempat melanjutkan penjelasan, Abu Nawas segera berseru dan mengatakan ini.

Abu Nawas: “Saya mengerti, saya mengerti … Jadi, karena 8-x = 6, itu berarti bahwa delapan semangka berkurang sesuai dengan jumlah semangka (nilai x), kan? Jelas jumlah semangka (dalam persamaan ini diberi simbol x) benarkah 2? ”

Kabayan: “Ya, tentu saja … Tuh, Abah Abu sederhana saja …”

Abu Nawas: “Ah * tidak * juga, Anda benar-benar memiliki penjelasan yang baik, jadi saya memahaminya dengan mudah.”

Abu Nawas tertawa riang, karena dia mengerti penjelasan Kabayan. Kemudian, dia juga mengatakan kepada Kabayan bahwa dia diundang ke seminar ini, bukan karena dia mengerti matematika. Tapi, panitia memintanya untuk menjelaskan literatur (bahasa) terkait matematika. Karena katanya, matematika juga merupakan bahasa, tetapi dalam bentuk simbol bahasa.

Abu Nawas: “Sekarang saya mengerti apa persamaannya, ini membuatnya lebih mudah bagi saya untuk berbicara tentang matematika sebagai bahasa simbol nanti,” kata Abu Nawas optimis.

Kabayan: “Sekarang giliranku untuk bertanya dengan Abah Abu …”

Abu Nawas: “Ah kang Kabayan, jangan tanya tentang masalahnya …?”

Kabayan .. “Ini adalah pertanyaan yang sulit saya tidak bisa menjawab Berikut cerita, seminggu yang lalu presiden memberikan pernyataan kepada para tahanan semua tahanan diberi diskon sebagai setengah kalimat untuk setiap tahanan. untuk tahanan dihukum 10 tahun karena dibelah dua, sehingga hanya tinggal di sebuah kalimat dari 5 tahun. Jika seorang tahanan dihukum 20 tahun karena dibelah dua, hanya akan 10 tahun. berikut. keputusan ini telah diputuskan oleh presiden dan tidak dapat diubah! ”

Abu Nawas: “Jadi apa masalahnya?”

Kabayan “Ini sebenarnya masalah matematika, hanya ada matematikawan di negara saya yang dapat menjawab Masalahnya adalah bahwa ada tahanan yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup (sampai tahanan mati).”

Meskipun tidak ada yang tahu kapan dia meninggal seseorang. Tidak ada yang tahu berapa lama seseorang akan hidup. Masalah ini telah menjadi sebuah adegan di Indonesia karena Presiden dikenakan kebijakan ini sembarangan. Tidak ada yang bisa memecahkannya. Paranormal sebagai dukun, peramal, tukang sihir, yang mentalis (seperti Dedi Corbuzier) dan sebangsanya tidak bisa memecahkan.

Bahkan para intelektual paling terkenal seperti Abdurrahman, khawatir tentang hal ini (walaupun Gus Dur terkenal karena kata-katanya .. “Ini benar-benar menjengkelkan” Tapi kali ini benar-benar membuatnya sulit) matematikawan bahkan cerdas mengangkat tangan mereka untuk menemukan solusi, dan ini menjadi masalah nasional. l Jadi bagaimana Abah Abu berakhir itu?

Abu Nawas: “Ooooh, begitu maka masalahnya adalah masalah Tapi beri aku sepuluh menit, makanan langkah pertama …?.” Kabayan juga membiarkan Abu Nawas selesai makan. Sambil makan, pikir Abu Nawas serius. Dan segera setelah makan selesai, terlihat terang dalam menghadapi Abu Nawas, tanda bahwa memiliki solusi untuk masalah ini.

Abu Nawas: “Haha … Saya rasa ini adalah kasus, masalah ini dapat diselesaikan dengan konsep persamaan sebelumnya menjelaskan …”

Kabayan: “Oh ya … Bagaimana?”

Abu Nawas. “Karena persamaan pendapat Anda berarti keseimbangan atau ekuilibrium, masalah pemotongan kalimat mudah untuk memecahkan ini adalah bagaimana terpidana penjara seumur hidup menerima kalimat dari setengah dari hidupnya, bagaimana menghukumnya cara ini. hari ia ditangkap, hari dia dibebaskan, dan dia meninggal. tidak seimbang, seperti persamaan, kan?

Kabayan: “.. Subhanallah, Alhamdulillah … benar-benar sebuah solusi yang sangat indah, dan sesuai dengan konsep kesetaraan Luar Biasa, bersyukur untuk memenuhi Abu Abah Abah disini Abu … Terima kasih”

Abu Nawas ke Bulan

Abu Nawas ke Bulan
Sumber: Pinterest

Raja Harun Al Rasyid kembali memberikan misi yang mustahil kepada Abu Nawas. Dia tidak pernah bosan mencoba kecerdasan Abu Nawas. Kali ini ia meminta sesuatu yang tidak wajar, yaitu pergi ke bulan untuk menyelidiki.

Meski jamannya jelas belum ada teknologi yang canggih dan canggih seperti Apollo. Sekarang hanya orang-orang tertentu yang bisa datang ke bulan, terutama yang pertama. Jadi jelas bahwa misinya hanya untuk membuktikan Abu Nawas.

“Pergi ke bulan?” Abu Nawas bertanya.

“Ya, Abu, aku tahu kau pria yang cerdas, kau pasti bisa pergi ke bulan,” kata Raja.

“Oke, aku akan pergi ke sana besok sore, Yang Mulia,” jawab Abu Nawas dengan cepat.

Raja kaget. Saya tidak berharap Abu Nawas menerima tantangan itu. Kemudian Raja Harun Al Rasyid bertanya: “Ke mana Anda akan pergi?”

“Dari rumahku,” jawab Abu Nawas.

“Oke, aku akan pergi ke sana untuk melihatmu pergi ke bulan besok malam,” kata Raja.

Malam itu, raja dan menterinya pergi ke rumah Abu Nawas. Bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang yang tersebar bersinar di langit. Ketika raja dan para menterinya tiba di sana, Abu Nawas tidak ada di rumah. Mereka hanya mengenal istrinya.

“Di mana Abu Nawas?” tanya raja.

“Dia pergi ke bulan, Yang Mulia, dia berkata akan segera kembali,” jawab istri Abu Nawas.

“Bagaimana Abu Nawas pergi ke bulan?” tanya salah satu menteri yang ingin tahu.

“Dia memanjat pohon palem di sana dan juga akan kembali melalui pohon palem,” jawab sang istri.

Raja dan para menteri mendekati pohon palem yang ditunjukkan istrinya. Anda dapat melihat bayangan seseorang yang turun dari pohon. “Apakah kamu Abu Nawas?” tanya raja.

“Ya, ini aku Abu Nawas, Yang Mulia,” jawabnya.

“Apakah kamu menyelidiki bulan lewat pohon palem?” tanya raja.

“Tidak, aku melakukan penyelidikan ketika bulan menghantam tanah,” katanya, “pohon-pohon itu hanyalah tangga yang melintas bagiku untuk pergi ke bulan,” jawab Abu Nawas.

Raja Harun Al Rasyid tersenyum dengan kata-kata Abu Nawas. Lalu dia bertanya apa yang dia lihat di sana. “Bumi dan gunung, tidak ada tanaman di sana,” kata Abu Nawas.

Masih tidak percaya, Harun Al Rasyid juga bertanya kepada saksi yang bisa menjelaskan apakah mereka membawa Abu Nawas ke bulan. Dan untuk mengetahui apa tanggapan Abu Nawas. Dia bahkan mengatakan bahwa dia tidak hanya bisa memberikan tiga atau lima saksi. Dia dapat memberikan sepuluh hingga ribuan kesaksian.

“Siapa yang bersaksi?” tanya raja.

Abu Nawas lalu mengarahkan jarinya ke langit. “Bintang-bintang adalah saksi saya, jika Anda tidak percaya kepada saya, Anda bisa bertanya langsung kepada mereka,” kata Abu Nawas dengan percaya diri.

Ketika dia mendengar jawabannya, raja tertawa. “Kenapa kamu tidak menunggu kami melihatmu pergi ke bulan?” tanya raja.

“Kamu terlambat, Tuanku, aku hanya bisa pergi ke bulan pada waktu tertentu.”

Abu Nawas Mau Terbang

Manusia Terbang
Sumber: Kaskus

Begitu tersiar kabar bahwa Abu Nawas ingin terbang. Berita itu dengan cepat mengejutkan seluruh kota. Banyak yang ingin tahu tentang berita yang datang ke Abu Nawas secara langsung.

Tetapi secara kebetulan, Abu Nawas menjawab: “Saudaraku yang sejati, aku ingin terbang,” jawab Abu Nawas seperti dikutip dalam buku yang ingin dinaikkan Abu Nawas pada hari Rabu (7 Januari) oleh Aziz Mushoffa.

Berita bahwa Abu Nawas ingin terbang telah menyebar dari daerah perkotaan ke pedesaan. Berita itu juga sampai di telinga Raja Harun Al Rasyid. Yang Mulia terkejut dan sedikit takut karena berita itu telah menyebabkan kegemparan di seluruh negeri. Banyak yang telah berjuang dan memperdebatkan kebenaran berita tersebut. Beberapa percaya, yang lain tidak percaya. Karena menimbulkan gangguan, Raja Harun Al Rasyid memanggil Abu Nawas ke istana.

Setibanya di istana, raja segera bertanya: “Abu Nawas, apakah Anda benar-benar ingin terbang?”

“Ya, Yang Mulia, saya benar-benar ingin terbang,” jawab Abu Nawas dengan acuh tak acuh.

“Kapan dan di mana?” kata raja.

“Jumat depan, di menara masjid Baitussalam, Yang Mulia,” jawab Abu Nawas.

“Tidak apa-apa, Abu Nawas, karena berita ini telah membuat perdebatan besar di antara orang-orang, pengadilan publik akan memutuskan nasibnya jika itu terletak.” Menurut peraturan negara ini, dia akan menerima hukuman berat jika dia berbohong. parah, yaitu, hukum gantung. ”

Banyak orang telah mengetahui panggilan Abu Nawas di istana oleh Raja. Abu Nawas telah diancam jika kebohongan akan dihukum dengan digantung. Mereka tidak bisa menunggu hari ketika Abu Nawas terbang atau akan dieksekusi.

Jumat tiba. Komunitas telah datang ke halaman masjid Baitussalam. Tidak jauh dari arena, tim bersiap untuk melakukan sholat gantung ketika Abu Nawas berbohong.

Tetapi orang-orang yang mengemasi masjid terkejut melihat Abu Nawas berjalan santai. Tanpa ragu, dia naik menara masjid. Orang-orang bertanya, “Apakah Abu Nawas akan terbang?” Ada juga yang mengatakan: “Tolong, terbanglah Abu Nawas, jika kamu terbang, kamu pasti akan jatuh dan kamu akan mati, tetapi jika kamu tidak terbang, kamu akan digantung”.

Suasana menjadi tegang dan tenang ketika Abu Nawas sampai di puncak masjid. Semua mata tertuju pada Abu Nawas, seolah-olah mereka merasa akan menyaksikan peristiwa luar biasa.

Sementara di lantai atas, Abu Nawas bangkit dan mulai berakting. Dia mulai menggerakkan tangannya seolah-olah terbang. Dia merentangkan tangannya berulang kali dan melambaikan tangannya berulang kali seperti burung. Dia melakukannya berulang kali sampai beberapa menit berlalu, tetapi sebenarnya Abu Nawas tidak terbang.

Di halaman orang-orang saling memalingkan muka, jantung mereka berdetak kencang karena hakim siap memutuskan hukuman. Namun Abu Nawas dengan santai jatuh dari menara. “Apakah kamu melihat saya ingin terbang?” Abu Nawas bertanya kepada hadirin setelah tiba di bawah.

“Ya, kamu gerakkan tanganmu seolah ingin terbang,” jawab banyak orang.

“Lalu, apakah aku berbohong bahwa aku ingin terbang dari menara masjid Baitus pada malam hari?” dia bertanya lagi.

Orang-orang hanya menggelengkan kepala tanpa suara yang keluar. “Yah, bagaimana menurutmu? Aku tidak bilang aku bisa terbang, tetapi aku ingin terbang, jadi aku ingin terbang, tetapi aku tidak bisa terbang,” Abu Nawas menjelaskan.

Orang-orang juga menyadari bahwa ini adalah kecerdasan kata-kata dan perilaku Abu Nawas. Dia dapat mengubah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan dengan caranya sendiri. Hakim tidak berdaya. Mereka kesulitan menemukan artikel untuk menangkap Abu Nawas karena mereka merasa ini hanya permainan kata-kata dan interpretasi.

“Hati-hati jika Anda mendapat berita, jangan langsung menelannya, tapi pikirkan dulu,” kata Abu Nawas kepada hadirin.

Setibanya di istana, algojo menceritakan apa yang terjadi hari itu kepada Raja Raja Harun Al Rasyid. Alih-alih marah atau kecewa, raja malah tertawa terbahak-bahak. “Kurasa ini yang dia lakukan, aku berulang kali menertawakan akalnya.”

Abu Nawas dan Telur Unta

Unta

Suatu hari, Yang Mulia Harun al-Rasyid merasakan sakit di anggota tubuhnya. Berjalan terasa berat sampai dia akhirnya memanggil dokter istana untuk mengobatinya, tetapi ternyata tidak ada. Karena dokter istana dokter di seluruh kota Baghdad tidak dapat disembuhkan, ia akhirnya membuat kontes untuk dokter untuk menyembuhkan penyakitnya.

Siapa pun yang dapat mengobati penyakit Harun Al Rasyid akan menerima banyak penghargaan emas.

Kontes telah diperpanjang. Banyak dokter yang akhirnya ikut mengeluh tentang nasib mereka untuk merawat raja. Abu Nawas yang mendengar kontes tertarik untuk mencobanya. Meskipun saya tidak memiliki kemampuan untuk menghadapinya.

Hari yang diharapkan tiba. Abu Nawas menghadapi sultan untuk mencoba mengobatinya. “Hai Abu Nawas, rupanya kamu ikut serta dalam kontes yang aku selenggarakan!” kata sultan.

“Ya, Raja,” kata Abu Nawas.

“Bisakah kamu mengobati penyakitku?” Harun al Rasyid bertanya.

“Hamba akan mencoba dengan raja, aku akan mencoba menerapkan formulir yang belum dilakukan oleh dokter lain,” jawab Abu Nawas dengan meyakinkan.

Abu Nawas kemudian meminta Yang Mulia Harun al-Rasyid untuk menjelaskan penyakit apa yang diderita sehingga Abu Nawas dapat menindaklanjutinya. Yang Mulia Harun al Rasyid juga menjelaskan bahwa jika tubuhnya sakit, tangan dan kakinya sakit. Setelah memeriksa, Abu Nawas tidak segera mengobatinya, ia meminta Raja Harun al Rasyid selama 2 hari untuk menemukan resep obat terbaik.

Di bawah pohon rindang, dia terus memikirkan resep untuk raja. Maklum, dia bukan dokter, jadi dia bingung tentang resep apa yang harus diberikan. Sementara dia duduk dan berpikir, dari kejauhan dia melihat seorang kakek tua yang masih sibuk memetik buah di kebun palem. Abu Nawas yang kaget segera mendekati kakek.

Setelah berbicara dengan kakek, Abu Nawas mendapat jawaban jika kakek melakukan aktivitas memetik buah sebagai kehidupan yang sibuk. Jika tidak ada aktivitas, kakek merasa tubuhnya sakit. Dari pertemuan itu, Abu Nawas menemukan penyebab penyakit Harun al Rasyid.

Keesokan harinya, Abu Nawas berhadapan dengan Yang Mulia Harun al Rasyid. “Hai Abu Nawas, bukankah kamu sudah berhadapan denganku selama dua hari, di mana obatnya untukku?” tanya Raja Harun al Rasyid.

“Maaf, hamba, Yang Mulia, kali ini hamba belum membawa obat yang dapat Anda minum, karena obat yang dapat menyembuhkan raja hanyalah telur unta, Anda harus menemukan telurnya karena jika Anda tidak mencarinya, properti akan hilang, “jelas Abu Nawas.

“Jika itu yang kamu sarankan, aku akan segera mencarinya,” jawab raja.

Dengan sekuat tenaga, Harun al Rasyid berusaha menemukan telur unta di pasar. Para pedagang kagum. Bukankah unta melahirkan, bukan bertelur? Tetapi mereka tidak berani mengatakan itu karena mereka mencari Raja.

Setelah berkeliling kota dan tidak menemukan satu pun penjual telur unta, Harun al Rasyid bertemu dengan seorang nenek tua yang menjelaskan bahwa unta tidak bertelur tetapi melahirkan. Kemudian dia menyadari jika Abu Nawas telah membohonginya.

Setelah tiba di kediaman, Raja Harun al-Rasyid kelelahan setelah perjuangan panjang untuk menemukan telur unta dengan berjalan kaki. Akhirnya dia tertidur karena kelelahan yang dideritanya.

Hari berikutnya dia terlihat sangat bugar dan, anehnya, rasa sakit yang dideritanya hilang. Dia kemudian mengatakan kepada para penjaga untuk meminta Abu Nawas menghadapinya. Tidak lama kemudian, Abu Nawas berhadapan dengannya.

“Bagaimana dengan raja, apakah kamu menemukan telur unta yang aku sarankan?” Abu Nawas bertanya setelah memberi salam.

“Tampaknya kamu bermain denganku, ya?” jawab bagian Anda dengan amarah.

“Apa maksudmu dengan itu?”

“Anda menyuruh saya mencari telur unta, meskipun unta tidak bertelur, tetapi melahirkan,” Bagianda Harun al Rasyid menjelaskan.

Abu Nawas kemudian menceritakan pertemuannya dengan kakek tua itu untuk mendapatkan kebijaksanaan jika anggota tubuh yang tidak pernah dipindahkan akan membuat orang sakit. Pengalaman itu adalah apa yang ingin Abu Nawas terapkan pada rakyatnya sehingga dia tidak hanya memerintah, tetapi juga pindah.

“Tentu saja raja tidak akan menemukan telur unta, karena tidak akan ada unta yang mungkin bertelur, tetapi sekarang raja tidak merasa lebih baik?” Abu Nawas bertanya setelah memberikan penjelasan.

“Benar … apa yang kamu katakan itu benar, Abu Nawas,” jawab raja yang tidak lagi marah dengan jawaban Abu Nawas. “Aku bahkan bisa tidur nyenyak sepanjang malam.”

“Jika demikian, memang benar jika ada pepatah yang mengatakan, ‘Tidak ada kelezatan, kecuali setelah kelelahan,'” kata Abu Nawas.

Mendengar ini, Harun al-Rasyid tertawa dan menggelengkan kepalanya karena kecerdikan Abu Nawas. Kisah ini diceritakan dalam tulisan Abu Nawas dan Telur Unta oleh Imam Musbikin.

Abu Nawas vs Unta

Camel
Sumber: Pixabay

Setelah di negara itu, 1001 malam ada unta yang bisa berbicara dengan manusia. Unta itu milik tokoh cerdas paling terkenal saat itu, yaitu Tuan Jambul, juga dikenal sebagai Abu Nawas. Julukan Mr. Jambul adalah karena kebiasaan Abu Nawas, yang suka memotong rambutnya dengan model lambang.

Suatu hari, Abu Nawas mengundang kameranya untuk pergi berkeliaran. Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada istrinya, tinggalkan dia dengan unta lengkap dengan perbekalannya. Dimulai di sepanjang gurun yang gersang dan sangat panas di siang hari. Ketika malam tiba, hawa dingin yang luar biasa menusuk tulang.

Perjalanan yang cukup jauh membuat Abu Nawas dan untanya merasa lelah. Di bawah matahari dekat pohon kaktus, mereka berbicara. “Tuan, apakah perjalanan kita masih jauh?”

“Ya, kita harus melalui dua gurun lagi, setelah itu kita akan mencapai kota terdekat, setelah tiba di desa, kita hanya bisa beristirahat lebih banyak di penginapan yang aman dan nyaman,” jawab Abu Nawas.

Setelah waktu istirahat, keduanya mulai melanjutkan perjalanan lagi. Sore telah gelap, sinyal malam telah tiba. Abu Nawas menghentikan perjalanan untuk sementara waktu. Dia memasang tenda untuk berlindung dan tidur sepanjang malam. Tetapi disayangkan unta, majikannya tidak mengizinkannya tidur di toko karena tokonya kecil.

Abu Nawas sedang tidur nyenyak. Sementara unta tidak bisa tidur karena kedinginan. Dia mulai berpikir bahwa jika dia melanjutkan ini dia akan sakit besok dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Di tengah malam, unta membangunkan bosnya dan berkata, “Tuan, saya kedinginan, biarkan saya meninggalkan jari saya di tenda.” Abu Nawas juga tidak merasa keberatan karena jari kakinya tidak akan mengganggu tidurnya.

Setelah satu jam, unta berkata lagi: “Pak, saya kedinginan, biarkan saya meletakkan kaki depan saya di toko sehingga besok saya bisa berjalan kuat dengan guru saya di punggung saya.”

“Itu benar,” pikir Pak Jambul. Dia juga mengizinkan.

Satu jam lebih, unta berkata lagi: “Hidungku mulai menetes, besok aku akan sakit dan aku tidak akan bisa membawa tuanku kembali. Biarkan kepalaku berada di toko”.

Jadi jam demi jam berlalu sampai akhirnya Pak Jambul tidak memperhatikan apakah dia sekarang tidur di luar toko. Dia juga merasa menggigil kedinginan. Hingga pagi hari, dia menyadari bahwa dia sedang tidur di luar. Melihat unta masih jauh di dalam, tuan bangun dan bertanya mengapa dia tidur di luar sementara unta bahkan di dalam tenda.

Unta bangun. Dia tersenyum sambil menggosok matanya. Dia menjawab dengan santai pertanyaan Mr. Jambul: “Saya tidak mengusir Tuhan, saya sebelumnya meminta izin Pak untuk melanjutkan perjalanan.”

Sambil bersin, Pak Jambul berkata: “Sebenarnya, kamu adalah unta yang cerdas, akulah yang tahu bahwa dia adalah orang yang paling cerdas, kamu masih bisa mengalahkannya.”

Unta menjawab dengan rendah hati: “Saya seperti itu karena saya belajar dengan Anda”.

Kecerdikan Abu Nawas Berujung Emas

Gold
Sumber: Pixabay

Suatu hari tiga buah kampung tiba di hadapan Sultan Harun al Rasyid di istana. Sultan Harun al Rasyid, yang sedang duduk dalam perbincangan dengan pegawai kanan, segera mengundang tiga lelaki itu untuk masuk.

Selepas ketiga-tiga orang itu tunduk, salah seorang daripada mereka berkata: “Ampunilah dia untuk beribu-ribu, kerana kami telah mengganggu perbincangan dengan pegawai lain.”

“Tidak, jangan risau, kami gembira dengan ketibaan anda, apa yang anda lakukan kepada saya? Adakah ada sesuatu yang anda mahu katakan?”

“Di sini, saya, Ahmad, saya mempunyai dua kambing, Zulfikar mempunyai seekor kambing, sedangkan Zubair tidak mempunyai kambing, jadi Zubair, yang setiap hari harus bekerja seperti seekor kambing ketika tiga kambing mempunyai yang terbaik, OK, Saya mendapat separuh jumlah kambing, Zulfikar mendapat satu pertiga daripada jumlah kambing, sedangkan pastor dan pastor Zubair adalah sebahagian daripada kedelapan, “kata Ahmad.

“Jadi, apa kambing sekarang beranak-pinak?” Dia bertanya.

“Ya, Anda tahu, ketiga kambing sekarang menambahkan 23. Oleh karena itu, sekarang kami ingin membagikannya sesuai kesepakatan kami terlebih dahulu, tetapi sulit bagi kami untuk membagikannya, itulah sebabnya kami datang untuk meminta bantuan Anda,” jelas Ahmad.

Pembagian 23 kambing sesuai perjanjian itu tidak mudah. Bayangkan, jika Ahmad mendapat bagian dari setengah kambing, maka Ahmad mendapat sebelas bagian lagi. Sementara Zulfikar menerima sepertiga, ia harus mendapatkan tujuh kambing lebih dari dua pertiga. Sementara Zubair mendapat bagian kedelapan, itu berarti dua lagi tujuh kambing untuk delapan kambing.

Harun al Rasyid tampaknya sedang berpikir keras untuk menyelesaikan masalah. Bahkan para pejabat yang hadir di situs tersebut tidak dapat menyelesaikan artikel juga. Karena tidak ada yang hadir di tempat itu yang bisa menyelesaikan masalah, Harun al-Rasyid akhirnya berpikir untuk mengundang Abu Nawas yang licik ke istana.

Setelah Abu Nawas tiba di istana, ia langsung bertanya apa yang sedang terjadi. Ketiganya menceritakan kembali kronologi kebingungan.

“Wow … itu masalah kecil, Yang Mulia, insya Allah, saya akan membantu menemukan solusi,” kata Abu Nawas. “Tolong bawa kambingnya!”

Setelah dua puluh tiga kambing dibawa ke istana, Abu Nawas menghitung ulang jumlah kambing. Setelah kambing dihitung dan jumlahnya benar 23, maka Abu Nawas berpikir sulit untuk menemukan solusi untuk masalah yang rumit. Segera setelah itu, “Biarkan aku meminjam kambing raja, satu saja!” kata Abu Nawas.

“Yah, sekarang saatnya bagiku untuk membagi kambing sesuai dengan porsinya selama perjanjian!” Kata Abu Nawas setelah menambahkan seekor kambing milik Harun al Rasyid. “Ahmad, yang berhak mendapatkan separuh kambing, bisa membawa 12 ekor!”

“Sementara kamu, Zulfikar, dapatkan sepertiga dari itu, maka kamu dapat mengambil delapan!” kata Abu Nawas diperintahkan.

“Akhirnya, Zubair mendapat bagian kedelapan, jadi dia memiliki hak untuk berpartisipasi dalam kambing bagian 3. Selebihnya, karena dia telah meminjam seekor kambing dari raja, jadi aku mengembalikan kambing itu.”

Setiap orang memiliki bagian mereka. Mereka juga berterima kasih dan kembali ke rumah mereka. Kasus yang bermasalah akhirnya menemukan solusi berkat kecerdasan Abu Nawas. Meskipun ada beberapa yang kurang beruntung, mereka semua senang. Akhirnya Abu Nawas menerima hadiah emas dari Harun al Rasyid berkat akalnya.

Jika diperhatikan, ada sesuatu yang salah atau tidak tepat dalam pendistribusian kambing. Uji seberapa cermat Anda untuk mengetahui di mana letak kesalahannya!

Abu Nawas vs Tuan Tanah

Abu Nawas
Sumber: Brilio

Hari itu puasa Ramadhan masuk pada hari kedua puluh. Seperti biasa, Abu Nawas duduk di teras depan gubuknya sambil menunggu panggilan Maghreb untuk berdoa. Sambil menunggu matahari terbenam, Abu Nawas berpikir tentang bagaimana menjaga agar dapur tetap dikukus.

Sementara Abu Nawas bingung, tidak jauh dari rumahnya ada seorang pemilik yang memiliki rumah yang sangat besar. Hampir populasi daerah yang bekerja untuk pemilik hanya memperoleh sedikit hasil. Saat meminjam makanan dari pemiliknya, selalu dengan tingkat bunga yang sangat tinggi. Sebagai layaknya pemilik, dia pelit, serakah dan serakah.

Suatu hari, pemiliknya mendengar berita bahwa Abu Nawas memiliki kepribadian yang unik. Dengan meminjam sesuatu, Abu Nawas akan mengembalikannya lebih banyak karena pengiriman. Misalnya, dengan meminjam ayam, itu akan dikembalikan lebih banyak karena ayam itu punya anak. Pemilik kemudian mencari cara untuk meminjam uang segera dari Abu Nawas.

Kebetulan siang itu, Abu Nawas ingin meminjam tiga telur. Segera, pemilik senang karena pinjaman akan menjadi jauh kemudian. Bahkan pemiliknya menawarkan pinjaman lain. Tapi Abu Nawas hanya ingin meminjamkannya. Dengan cepat pemilik bertanya kapan bayi bisa makan telur? Abu Nawas menjawab, jika itu tergantung situasi.

Lima hari setelah itu, Abu Nawas kembali ke pemiliknya. Dia mengembalikan pinjaman tiga telur dengan lima telur. Pemiliknya senang sekali. Kemudian dia menawarkan Abu Nawas untuk meminjamkannya lagi. Sebenarnya Abu Nawas berniat meminjam lagi. Kali ini dia meminjam dua piring keramik. Pemiliknya memberikannya dengan gembira dengan harapan bahwa ia akan kembali lebih banyak.

Lima hari kemudian, Abu Nawas mengembalikan dua piring menjadi tiga. Meski tidak seperti yang dia harapkan, saya masih cukup senang. Saking bahagianya, Abu Nawas dipinjamkan seribu dinar, jumlah yang bisa digunakan untuk membayar upah lusinan pekerja dalam sebulan.

Pemiliknya membayangkan berapa banyak alat pengocok uang yang dipinjamkannya ke Abu Nawas. Saya tidak sabar menunggu saat itu datang. Tapi lima hari sudah diduga, ternyata Abu Nawas tidak datang. Dia menunggu sampai hampir sebulan tidak tiba.

Ketika pemilik berencana untuk pergi ke Abu Nawas dengan para wanita, Abu Nawas tiba-tiba tiba. Awalnya, pemiliknya senang, tetapi setelah Abu Nawas menjelaskan masalahnya, dia marah karena tidak bermain.

“Sayang gurunya, uang yang kamu bayar bukannya punya anak, bukannya itu, tiga hari kemudian mereka mati mendadak!” Setelah mendengar ini, pemiliknya menjadi marah sampai dia hampir mengalahkan Abu Nawas. Untungnya, itu tidak terjadi.

Pemilik kemudian melaporkan masalah tersebut ke pengadilan dan percaya bahwa Abu Nawas akan dihukum dengan rajam. Di depan hakim, Abu Nawas membuat pembelaan dengan mengungkap semua masalahnya. Juga dengan pemiliknya. Abu Nawas memberi alasan bahwa jika sesuatu dapat memiliki anak, ia juga bisa mati.

Alasan itu ternyata dianggap masuk akal oleh hakim sampai Abu Nawas dianggap tidak bersalah. Itu dianggap tidak menipu, tetapi penuh akal, sementara pemilik memberikan pinjaman berdasarkan keinginannya sendiri, bukan paksaan atau penipuan. Segera pemilik rakus pingsan selama beberapa jam dan sulit untuk membangunkannya. Dia telah ditipu karena karakternya yang pelit, serakah dan pelit.

Abu Nawas dan Pengemis

Pengemis
Sumber: Pixabay

Ada seorang pedagang di Baghdad yang memiliki sebuah kolam yang airnya sangat dingin. Dikatakan bahwa tidak ada yang bisa tetap berendam untuk waktu yang lama, terutama sampai tengah malam.

“Siapa pun yang berani mandi pada suatu malam di kolam saya, saya memberinya hadiah sepuluh ringgit,” kata pedagang itu. Undangan mengundang beberapa orang untuk mencobanya. Namun, tidak ada yang bertahan satu malam, hanya sampai sepertiga malam.

Suatu hari seorang pengemis mendekatinya. “Apakah Anda akan mandi di kolam saya tadi malam?” Jika Anda memegangnya, beri saya hadiah sepuluh, “kata pedagang.

“Aku akan mencoba,” jawab pengemis itu. Kemudian dia meletakkan tangan dan kakinya di kolam, bahkan, air di kolam itu sangat dingin. “Mungkin baik-baik saja,” katanya kemudian.

“Kamu bisa membenamkan diri di dalamnya nanti,” kata si pedagang.

Sambil menunggu malam datang, pengemis itu kembali ke rumah dan ingin memberi tahu putri istrinya tentang gagasan mandi di kolam renang.

“Istriku,” kata pengemis ketika dia sampai di rumah. “Bagaimana menurutmu jika aku mandi malam hari di kolam pedagang untuk mendapatkan sepuluh ringgit? Jika kamu setuju, aku akan mencoba.”

“Oke,” jawab sang istri, “Semoga Tuhan menguatkan tubuhmu.”

Kemudian pengemis itu kembali ke kediaman pedagang. “Nanti, jam delapan, kamu bisa pergi ke kolam renang dan pergi jam enam pagi,” kata si pedagang, “kalau kamu simpan, aku akan membayar gajimu.”

Setelah tiba waktunya bagi pengemis untuk memasuki kolam, hampir tengah malam terasa dingin sampai dia tidak tahan lagi dan ingin pergi, tetapi karena dia mengharapkan sepuluh gaji sebagai gajinya, dia menjaga niatnya sekuat mungkin.

Kemudian dia berdoa kepada Tuhan agar airnya tidak terlalu dingin lagi. Bahkan, doanya terkabul, dia tidak merasa kedinginan lagi.

Sekitar pukul dua dini hari, anak itu datang kemudian. Dia khawatir mungkin ayahnya akan mati kedinginan. Hatinya benar-benar bahagia ketika melihat ayahnya hidup. Kemudian dia menyalakan api di tepi kolam dan menunggu sampai pagi.

Pada sore hari, pengemis bangkit dari kolam dan bergegas menemui pedagang untuk meminta hadiahnya. Tetapi pedagang itu menolak untuk membayar, “Saya tidak mau membayar, karena putranya membuat api di tepi kolam, itu pasti tidak dingin.”

Tetapi pengemis itu tidak mau kehilangan: “Panasnya tidak tergantung pada tubuh saya, bukan hanya apinya yang jauh, saya akan membenamkan diri ke dalam air, bisakah api masuk ke air?”

“Aku masih tidak mau membayar gajimu,” desak pedagang itu. “Sekarang terserah kamu, lapor atau berkelahi denganku, aku akan menunggu.”

Dengan perasaan bahwa pengemis itu kembali ke kediamannya, “Sudah dingin, setengah mati, kamu tidak bisa meninggalkan uang,” pikirnya. Kemudian dia menyerahkan penipuan itu kepada hakim.

Keluhan terdengar, hakim harus memperbaiki sikap pedagang. Kemudian dia mencoba mencari orang hebat lain untuk diajak bicara, tetapi dia terus disalahkan dengan serius.

“Di mana lagi aku akan mengirim takdirku?” Kata pengemis dengan suara putus asa. “Oh, Allah, kamu juga tahu nasib hambamu, semoga setiap orang yang benar-benar menang.” Doa dalam hati.

Dia juga mengikuti jejaknya dengan perasaan bahkan lebih jengkel. Dengan takdir Tuhan, dia bertemu Abu Nawas di sudut jalan.

“Halo, hamba Tuhan,” Abu Nawas bertanya, ketika dia melihat bahwa pengemis itu tampak sangat sedih. “Mengapa kamu terlihat sangat tertekan? Meskipun udaranya sangat cerah.”

“Memang benar bahwa pelayan itu di tengah-tengah tidak beruntung,” kata pengemis itu, dan kemudian berbicara tentang malapetaka yang terjadi pada pengemis itu ketika mentransmisikan nasibnya.

“Jangan bersedih lagi,” kata Abu Nawas dengan mudah. “Insya Allah, saya dapat membantu Anda memecahkan masalah Anda, besok datang ke rumah saya dan melihat langkah saya, Anda pasti akan menang dengan izin Allah.”

“Terima kasih banyak, mereka bersedia membantu saya,” kata si pengemis. Kemudian keduanya berpisah. Abu Nawas tidak kembali ke kediamannya, tetapi berhadapan dengan sultan di istana.

“Apa beritanya, wahai Abu Nawas?” Kata Sultan, sehingga dia melihat batang hidung Abu Nawas. “Apa masalahnya hari ini?”

“Kabar baik, Tuanku, Shah Alam,” jawab Abu Nawas. “Jika kamu tidak keberatan untuk taat, silakan datang ke rumah Patik, karena kamu memiliki kebutuhan.”

“Kapan saya harus datang ke rumah Anda?” Sultan bertanya.

“Senin jam tujuh pagi, Paduka”, Jawa Abu Nawas.

“Tidak apa-apa,” kata sultan, “aku pasti datang ke rumahmu. ”

Segera setelah dia meninggalkan istana, Abu Nawas segera pergi ke tempat kediaman pedagang yang memiliki kolam renang, kemudian ke kediaman hakim dan pejabat lainnya yang telah dihubungi oleh pengemis. Abu Nawas menyarankan undangan untuk datang ke rumahnya pada Senin depan.

Senin yang diharapkan, mulai jam tujuh pagi, kediaman Abu Nawas dipenuhi tamu, dihitung sebagai Sultan. Mereka duduk di atas karpet yang awalnya dimiliki oleh tuan rumah, seperti pangkat dan posisi masing-masing.

Setelah semuanya dikumpulkan, Abu Nawas memohon agar Sultan pergi ke belakang kediaman, lalu menggantung pot besar di pohon, menangkapnya, kecuali di api.

Tunggu, kamu harus menunggu, Abu Nawas tidak bisa melihat hidungnya, jadi Sultan juga memanggil Abu Nawas, “di mana Abu Nawas, apakah nasi sudah dimasak atau belum?” Gumam Sultan.

Rupanya, geraman sultan didengar oleh Abu Nawas, dan dia juga menjawab: “Tunggu sebentar, tuanku Shah Alam.”

Yang Mulia juga diam, dan duduk kembali. Tetapi ketika matahari telah mencapai mahkota, sebenarnya Abu Nawas tidak terlihat di depan beberapa tamu.

Perut perut yang buncit bergemuruh. “Hai Abu Nawas, bagaimana dengan dapurmu? Aku lapar, kata raja.

“Segera, oh Shah Alam,” kata pembawa acara.

Yang Mulia masih sabar, lalu dia duduk, tetapi ketika dzuhur sudah hampir habis, tidak ada cukup makanan untuk keluar, dia tidak bisa menunggu lagi, dia juga mengikuti Abu Nawas di belakang kediaman, diikuti oleh tamu-tamu lain.

Mereka ingin tahu persis tempat tinggal guru tempat tinggal itu, bahkan, Abu Nawas sedang mengerjakan api di kursinya.

“Hai Abu Nawas, mengapa kamu membuat api di bawah pohon seperti itu?” Tanga, Sultan.

Abu Nawas juga bangkit, untuk mendengarkan pernyataan raja. “Ya, Tuanku, Shah Alam, aku sedang memasak nasi, itu akan segera matang,” jawabnya.

“Masak nasi?” Tanya raja, “Di mana pot?”

“Ya, Tuanku,” jawab Abu Nawas sambil mengangkat wajahnya.

“Di sana?” Aku bertanya, terkejut. “Di mana?” Dia mengangkat wajahnya ke atas untuk mengikuti gerakan Abu Nawas, terlihat di atas, sebuah pot besar tergantung di tanah.

“Hai, Abu Nawas, apakah kamu sudah gila?” Sultan bertanya. “Memasak nasi tidak hanya seperti apa adanya, pot di pohon, api, tunggu sepuluh hari, beras tidak akan menjadi nasi.”

“Dengar, Yang Mulia,” Abu Nawas mencoba mengatakan tindakannya. “Ada seorang pengemis yang berjanji dengan pedagang, pengemis disuruh mandi di kolam yang airnya sangat dingin dan dia akan dibayar sepuluh kali lipat jika bisa bertahan satu malam”.

Pengemis setuju karena dia mengharapkan sepuluh gaji dan memenuhi janjinya dengan sukses. Tetapi pedagang itu tidak mau membayar, dengan alasan bahwa putra pengemis itu membakar kolam. “Kemudian seluruh kisah itu disampaikan kepada Sultan, lengkap dengan sikap hakim dan beberapa pejabat yang mengoreksi sikap pedagang.” Itulah alasan untuk melakukan ini. ”

“Boro-boro nasi akan matang,” kata Sultan, “airnya tidak akan panas, karena api terlalu jauh.”

“Begitupun dengan pengemis,” kata Abu Nawas lagi. “Dia berada di dalam air dan putranya membuat api di tanah jauh dari tepi kolam, tetapi pedagang mengatakan bahwa pengemis itu tidak tenggelam di dalam air karena ada api di tepi kolam, sehingga air kolam renang menghangat. ”

Pedagang itu memucat. Dia tidak bisa menyangkal hukuman Abu Nawas. Juga beberapa dari kaca pembesar itu, karena memang itulah yang terjadi.

“Sekarang aku ambil aturan ini,” kata Sultan. “Pedagang itu harus membayar pengemis seratus dirham dan hukum selama sebulan karena dia telah melukai orang miskin.” Hakim dan beberapa pejabat dijatuhi hukuman hukum selama empat hari karena mereka tidak melakukan keadilan dan menyalahkan orang yang tepat.

Saat itu, pengemis menerima cukup uang dari pedagang. Setelah menyatakan rasa hormat kepada Sultan dan menyapa Abu Nawas, ia juga kembali dengan ceria.

Sultan memerintahkan mentornya untuk memenjarakan pedagang dan beberapa pejabat sebelum akhirnya kembali ke istana dalam keadaan lapar dan haus.

Ini akan menjadi kasus Abu Nawas, dia juga perutnya gemuruh dan haus.

Abu Nawas Adu Ketangkasan

Memburu
Sumber: Pixabay

Pada hari yang cerah, Raja Harun Alrasyiddan dan pengikutnya meninggalkan istana untuk memburu. Tetapi dalam perjalanan, kejahilan Abu diikuti dengan panting pada kudanya. “Baginda, saya akan mencadangkan sesuatu,” katanya selepas mendekati raja. “Apa cadangan awak, abang Abu?” Tanya Raja Rajakeheranan.

“Jadi, acara memburu ini menarik dan disaksikan oleh ramai orang, bagaimana jika kita melakukannya?” Abu berkata jahil dengan wajah yang serius.

Dia senyap seketika dan mengangguk.

“Saya ingin mengadu tentang kemahiran dengan Abu Nawas, bagaimana anda? Pemenang mendapat jongkong emas, tetapi jika dia kalah, hukumannya memukul kuda istana selama sebulan,” kata Abu secara tidak sengaja untuk memberi keyakinan kepada raja.

“Hei, hanya hadiah yang anda fikirkan, jadi bagaimana langkah ini dalam kemahiran ini?” Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda sangat marah.

Selepas memberitahu berhala-berhala, dia bersetuju, kemudian memanggil Abun untuk dimaklumkan oleh seorang pegawai.

Abu Nawas menghadapi. Dia juga diberi panduan panjang olehnya. Pada mulanya, Abu Nawas enggan kerana dia memahami semua kesat yang menyalahkan kesat yang menyalahkan dirinya dari istana. Tetapi dia memaksa Abuna untuk mengelakkannya.

Abu nawas juga memikirkan seketika. Dia memahami bahawa Abujahil telah dilantik sebagai pegawai istana. Iapasti mengerahkan semua orangnya untuk mendermakan permainan di dalam hutan. Tetapi kerana kecerdasannya, Abu Nawas tersenyum gembira.

Orang-orang bodoh Abu yang melihat perubahan wajah Abuna menjadi penasaran. Intinya, dia berkata, Abunawas mungkin tidak menaklukkan dirinya pada masa ini.

Akhirnya dia membawa mereka ke pusat dataran istana. Raja dan semua orang sedang menunggu siapa yang akan memenangi perlumbaan memburu ini.

Isyarat sangkakala juga ditiup oleh Perdana Menteri. Kejahilan Abu dengan cepat menaikkan kudanya secepat hutan, di pinggir istana. Anehnya, Abu Nawas membiak kudanya dengan berhati-hati, menjangkau beberapa penonton.

Semasa dia menghampiri petang, kuda Abu Gandhi muncul di pintu istana. Dia juga menjerit kepada beberapa penonton dan memetik tepukan perayaan. Di sebelah kiri kudanya beberapa dozen haiwan mati telah dilihat.

Bukan itu sahaja, kuda ini banyak menghasilkan haiwan permainan lain. Abu bodoh dengan senyuman berbangga menunjukkan semua binatang permainan di lapangan.

“Saya, abah Abu, mempunyai hak untuk memenangi perlumbaan ini, melihat banyak arnab saya, bolehkah Abu Nawas mengalahkan saya?” Dia menjerit dengan kuat. Para penonton di arena yang lebih dan kurang bertepuk tangan.

Tidak kira berapa lama, nada kaki kuda. Semua orang ketawa dan berteriak lagi. Walau bagaimanapun, Abu Nawas tidak kecewa. Dia tersenyum dan melambai.

“Tenang, tenanglah, rakyat saya, kita akan tahu apa yang akan dilakukan Abu Dawas, dan kita sangat menyedari siapa yang menjadi pemenang hari ini,” kata raja yang kagum pada Abu Abdillah.

Beliau menghantar dua orang ke pusat lapangan dan mengira permainan Abu yang tidak diketahui.

“Satu, dua, tiga, empat, lima … dua puluh tiga puluh lima ekor kelinci, ditambah lima rusa dan dua babi!” Salah satu daripada awak kru itu menjerit.

“Kalau begitu saya menang, kerana Abu Nawas tidak membawa haiwan sama ada, hahaha,” Abu menjerit keras.

“Tenang, tenang, aku membawa beberapa ribu hewan, Jelas, aku adalah pemenangnya dan kamu adalah pemenangnya dan kamu adalah Abu yang tidak tahu apa-apa, tolong mandilah kuda istana. Yang jumlahnya mutlak,” kata Abu Nawas sambil membuka bambu kuning yang telah diisi beberapa ribu semut merah. “Sekarang coba perhitungan ini, satu, dua, tiga, empat, seratus, dua ratus, sisanya tidak perlu dihitung,” kata Abu Nawas.

Tidak banyak yang bisa dikatakan, Abu Jahil tidak sadar telah melihat semut merah Abu Nawas. Yang Mulia tertawa dan langsung memberi Abu Nawas hadiah. Kenaifan dan ketulusan pasti bisa menaklukkan kelicikan!

Belajar dari Buah Arbei

Buah Arbei
Sumber: Mejorimagen

Diketahui bahwa Abu Nawas memiliki pemikiran yang cerdas dan hampir dapat dipastikan bahwa ia memiliki cara untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, Abu Nawas terkenal dengan pedagang buah yang dipanen di tanah miliknya, yang cukup luas.

Juga karena luasnya kebun yang dimiliki Abu Nawas, sejauh mata memandang, itu seperti permadani hijau yang makmur.

Suatu hari, Abu Nawas diawasi, melihat-lihat kebunnya.

Dia berjalan di sepanjang kebunnya melalui setiap petak kebun yang ditanami berbagai jenis sayuran dan buah-buahan segar.

Abu Nawas sangat bangga dan senang melihat tanaman yang tumbuh subur dan menghasilkan banyak buah berkualitas.

Mengucapkan tawaran dan pujian serta terima kasih selalu dari mulut Abu Nawas kepada Tuhan.

Pemeriksaan pohon buah-buahan.

Pada siang yang panas itu, perjalanan Abu Nawas, yang sedang mengamati situs kebunnya, tiba-tiba berhenti di sebidang tanah di mana pohon-pohon stroberi makmur. tempat pohon strawberry tumbuh subur.

Abu Nawas melihat detail di setiap sisi strawberry-nya. Dia memandangi dahan-dahan, dedaunan hingga buah tampak segar menggantung.

Karena panas matahari yang begitu panas tepat di atas kepala dan dia merasa lelah, Abu Nawas berhenti dan beristirahat di bawah pohon stroberi yang tebal. Makanan yang disediakan oleh istrinya dengan cepat dibuka dan dikonsumsi.

Saat ini makanan yang dibawanya tidak terlalu pedas, sangat enak di gumannya. Didampingi oleh angin sepoi-sepoi, Abu Nawas senang menikmati makanan istrinya.

Setelah kenyang, ia menumpuk dirinya di atas pohon stroberi sambil mendongak, dan melihat stroberi yang sudah masak. Sejenak, dia memandangi labu di sebidang yang berlawanan, begitu besar dan dewasa.

Bukan hanya Abu Nawas kalau saja dia melihatnya. Ya … seperti masyarakat umum, Abunawas mulai merenungkan buah-buahan yang mengalir dari kebunnya.

Tiba-tiba, sebuah pemikiran muncul di benak Abu Nawas.

“Saya terkejut, apa alasan pohon stroberi ini, tetapi buahnya hanya kecil, meskipun, sebenarnya, pohon labu yang mudah menyebar dan pecah dapat menghasilkan buah-buahan yang bagus,” kata Abu Nawas. Buah Jatuh Stroberi.

Belum lama ini, angin kecil bertiup ke arah Abu Nawas, yang sedang beristirahat seakan segera menanggapi pertanyaan dalam benaknya.

Cabang-cabang stroberi juga bergerak dan digosok bersama, dan tidak lama setelah stroberi jatuh di kepala Abu Nawas dengan sorban.

“Ahaa … aku tahu penyebabnya,” kata Abu Nawas.

Untungnya bagi Abu Nawas sore itu, hanya stroberi yang jatuh ketika mereka beristirahat. Apa yang terjadi jika labu jatuh pada saat itu?

Allah SWT menjadikan semua makhluknya di muka bumi ini dengan kelemahan dan kelebihan masing-masing, di mana mereka semua ada sebagaimana adanya.

Baik keterikatan dan kebutuhan bersama.

Berapa Jumlah Bintang di Langit?

Bintang di Langit
Sumber: Pixabay

Abu Nawas diketahui mempunyai otak yang cemerlang.

Kerana intelektual mempunyai ini, ia dinobatkan supaya orang tinggal di kota tempat tinggalnya.

Salah satu ujian yang dia ada ialah dia boleh mengira bilangan bintang di langit.

Pada suatu hari, tiga lelaki bijak melawat negara untuk mendapatkan jawapan kepada soalan-soalan yang mendesak. Tidak jelas apa yang membawa tiga orang bijak ke hingaa: mereka datang satu hari ke kampung Abu Nawas untuk tinggal.

Tanpa penjelasan lanjut, dengan hujah mendesak, tiga orang itu mahu beberapa orang diminta untuk menjawab soalan-soalan yang diminta oleh tiga lelaki bijak itu. Goncang semua bos isyarat tidak dapat menjawab.

Tanya Jawab

Tetapi beberapa lama kemudian, beberapa penduduk juga menyerahkan Abu Nawas kepada wakil beberapa orang bijak untuk mewakili kampung mereka. Abu Nawas terpaksa berhadapan dengan tiga lelaki bijak itu dan di sekelilingnya berkumpul beberapa orang penduduk kampung yang melihat perbualan yang dipersoalkan.

Orang bijak pertama bertanya kepada Abu Nawas soalan: “Di manakah pusat kurap?”

“Datanglah di bawah kakiku, abang,” kata Abu Nawas.

“Bagaimanakah anda dapat menunjukkan perkara seperti itu?” Tanya yang pertama.

“Jika anda tidak pasti, ukur diri sendiri,” jawab Abu Nawas dengan mudah.

Orang bijak pertama tidak dapat menjawabnya.

Lihat rahmat pertama yang hilang oleh Abu Nawas, giliran orang bijak kedua untuk bertanya.

“Berapa banyak bintang yang terdapat di langit?” Dia bertanya.

“Bintang-bintang di langit sama seperti rambut yang tumbuh di keldaku,” jawab Abu Nawas.

“Bagaimanakah anda dapat menunjukkan perkara seperti itu?” Tanya orang yang bijak kedua.

“Nah, jika anda tidak pasti, hitungkan rambut pada keldai ini dan anda akan tahu kebenarannya,” Abu Nawas menjawab dengan mudah dan tanpa dosa.

“Jika itu bodoh, bagaimana anda boleh mengira rambut keldai itu?” Lelaki kedua bertanya lagi.

“Baiklah … jika saya bersenang-senang, mengapa anda bertanya soalan, bagaimana anda boleh mengira bintang-bintang di langit?” Kata Abu Nawas.

Apabila mendengar jawapannya, orang bijak kedua tidak dapat meneruskan persoalannya lagi.

Orang ramai benar-benar

Dia tahu bahawa rakan sekerja kedua tidak berdaya untuk setiap respon yang diperoleh dari Abu Nawas, maka orang bijak ketiga juga bertanya.

Antara tiga orang bijak, ini adalah orang ketiga yang berbicara dengan bijak.

Saya sangat terkejut dengan setiap tindak balas cerdas yang diperoleh dari Abu Nawas.

“Nampaknya anda tahu banyak tentang keldai, tetapi cuba beritahu saya berapa banyak bulu di ekor keldai itu,” kata orang suci yang ketiga.

“Saya tahu jumlahnya, jumlah rambut di ekor keldai saya adalah sama dengan jumlah rambut di janggut kamu,” jawab Abu Nawas dengan suara yang rendah.

“Bagaimanakah anda dapat menunjukkan perkara seperti itu?” Tanya askar ketiga.

“Oh … jika itu mudah, anda tahu, anda menarik bulu ekor saya dan kemudian saya tarik rambut keluar dari janggut anda … Baik … apabila ia adalah sama, maka apa yang saya katakan adalah benar, tetapi jika tidak, saya salah “jawab Abu Nawas dengan penuh motivasi.

Sudah tentu, orang ketiga tidak mahu menerima ukuran sedemikian.

Akhirnya, jejaka bijaksana kembali ke tanah airnya, dan untuk masa yang, beberapa penduduk kampung yakin semakin yang Abunawas terbaring di kalangan empat lelaki!

Leave a Reply

Close Menu